Kamis, 15 Desember 2011

SPORT MASSAGE

A. PENGERTIAN
Massage adalah suatu seni gerak tangan yang bertujuan untuk mendapatkan kebugaran, memulihkan cedera, menyembuhkan penyakit, dan mendukung prestasi olahraga dan kerja. Efek mekanis dari gerak tangan ini akan menimbulkan rasa tenang dan nyaman bagi penerimanya.
Kata massage berasal dari kata Arab mash yang berarti menekan dengan lembut atau dari kata Yunani massien yang berarti memijat atau melulut. Selanjutnya massage disebut pula sebagai ilmu pijat atau ilmu lulut. Dalam Bahasa Indonesia, tulisan massage diadaptasi menjadi masase . Pelaku massage disebut masseur untuk pria dan masseus untuk wanita yang diambil bahasa Perancis.
Di Indonesia massage dikenal dengan sebutan pijatan atau pijitan. Pijitan terdiri dari pijitan-pijitan lembut dengan jari. Massage yang paling populer di eropa dan amerika yaitu Swedish massage atau Massage Swedia. Massage sistem Swedia ini adalah merupakan salah satu dari bermacam-macam sistem massage yang ada diberbagai negara dewasa ini dan sistem ini dibagi menjadi 3 (tiga) macam massage, yang terdiri dari :
a. Sport Massage.
b. Segment Massage.
c. Cosmetic Massage.
Dari ketiga macam massage ini pelaksanaan pemijatannya terdiri dari bermacam-macam cara pegangan atau manipulasi. Tiap-tiap manipulasi atau grip mempunyai maksud dan tujuan tersendiri.
B. JENIS MASSAGE.
1. Sport Massage.
Sport massage adalah suatu massage yang ditujukan kepada semua orang yang sehat. Dalam hal ini tidak mempunyai pengertian bahwa sport massage hanya untuk olahragawan saja, tetapi juga boleh diberikan kepada siapa saja, baik orang tua maupun orang muda, pria ataupun wanita. Termasuk mereka yang menderita cedera-cedera olahraga ringan dapat disembuhkan dengan sport massage. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien, dan biasanya memakan waktu 1-2 jam.
2. Segment Massage.
Segment Massage ialah suatu massage yang bertujuan untuk pengobatan antara lain dapat dipakai untuk menolong orang-orang menderita penyakit tertentu. arthritis (radang sendi), kelumpuhan otot karena berkurangnya fungsi saraf, distorsi atau “keseleo” pada sendi. Segment massage lebih ditekankan pada pengaruhnya terhadap persarafan, terutama pusat sraf diruas-ruas tulang belakang beserta serabut-serabut sarafnya. Akan tetapi segment massage ini bisa digunakan bagi yang mengalami cedera karena olahraga, baik Strain dan Sprain. Dinamakan segment massage karena massage ini dilakukan pada bagian-bagian tubuh atau segment-segment tubuh,yang termasuk segment massage ini, yaitu : Shiatsu, Tsubo, Frirage, Xigong, Needle Massage, accupunctur, Oriental massage.
Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien, lamanya waktu massage 15 s/d 30 menit.
3. Cosmetic Massage.
Cosmetic massage ialah suatu massage khusus yang ditujukan untuk pemeliharaan kecantikan, tempat-tempat pemijatannya terbatas terutama untuk di daerah muka (wajah).
C. TUJUAN.
Massage mempunyai beberapa tujuan :
• Massage untuk terapi, yaitu tujuannya dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap keadaan patologi dan post trauma.
• Massage untuk kesehatan, yaitu dapat menormalkan fungsi organ, serta berguna dalam menghindari penyakit dan kelainan.
• Massage untuk olahraga, yaitu dapat mempertahankan tubuh, memperbaiki atau menghilangkan akibat kelelahan berolahraga yang merugikan.
D. MANIPULASI POKOK PEMIJATAN (MASSAGE)
1. EFFLEURAGE (MENGGOSOK).
Maksud : memberikan rangsang kepada persarafan dan jaringan dibawah kulit.
Tujuan : membantu kerja pembuluh darah darah balik vena serta memanaskan badan.
Teknik : effluerage pada umumnya selalu dilaksanakan menyusun mengikuti perpanjangan otot dan menuju kearah jantung.
2. PETRISAGE (MEMIJAT-MIJAT).
Maksud :menghancurkan sisa pembakaran dan melemaskan kekakuan didalam jaringan.
Tujuan : untuk memudahkan pengangkutan
Teknik : pelaksanaannya untuk tempat-tempat yang lebar dan dapat dikerjakan dengan kedua tangan sercara bersama-sama atau kedua tangan secara berurutan.
3. SHAKING ( MENGUNCANG-GUNCANG).
Maksud : menempatkan kembali otot, pembuluh darah, persyarafan (jaringan dibawah kulit) pada tempatnya masing-masing.
Tujuan : untuk memudahkan pengaliran atau pertukaran zat dijaringan dibawah kulit tersebut, pada tempatnya masing-masing,
Teknik : pada umumnya shaking dapat dilakukan dengan dua tangan maupun dengan satu tangan.
4. TAPOTEMENT (MEMUKUL-MUKUL).
Maksud : mempengaruhi tonus otot syaraf vegetatior (tak sadar) pada jaringan perifer (tepi)
Tujuan : mempertinggi tonus otot dan mempergiat peredaran darah pada kulit
Teknik : pada umumnya tapotement dapat dilakukan dengan dua tangan secara bergantian.
5. FRICTION (MENGERUS).
Maksud :menghancurkan bekuan-bekuan dan pengerasan-pengerasan di dalam jaringan ikat dan otot.
Tujuan : menormalkan sirkulasi (peredaran) darah dan pertukaran zat
Teknik : friction dapat dikerjakan dengan ujung-ujung jari atau pangkal tapak tangan disesuaikan dengan keadaan.
6. WALKEN (MENGGOSOK MELINTANG OTOT).
Maksud : sama dengan effluerage.
Teknik : diberikan hanya pada tempat-tempat yang lebar dan pelaksanaannya melintang otot, walken selalu dikerjakan dengan dua tangan , jari-jari rapat.
7. VIBRATION (MENGGETARKAN).
Maksud : dengan halus merangsang syaraf vegetatif.
Tujuan : untuk mempengaruhi alat-alat yang penting.
Teknik : getaran ini diberikan melalui ujung satu jari, dua jari maupun tiga jari dirapatkan. Caranya dengan membengkokkan siku jari-jari ditekankan pada tempat yang dikehendaki, kemyudian kejangkan seluruh lengan tersebut, biasanya diberikan ditempat yang sensitif (peka), misalnya bawah lekuk kepala, sekeliling persendian. Vibriation termasuk manipulasi segment massage dan sangat efektif untuk memacu persarafan dalam usaha penyembuhan.
8. SKIN ROLLING (MENGESER LIPATAN KULIT).
Maksud : melepaskan kulit dari jaringan kulit dan melebarkan pembuluh darah kapiler.
Tujuan : mempertinggi tonus dan memperbaiki pertukaran zat serta peredaran darah dibawah kulit/
Teknik : untuk tempat-tempat yang kecil dapat dikerjakan dengan satu tangan, caranya mencubit kulit, ibu jari didorongkan dengan jari-jari yang lain melangkah jalan kedepan. Umumnya dilakukan melintang otot, arahnya naik turun bebas.

9. STROKING (MENGURUT).
Maksud : mempengaruhi syaraf vegetatif pada jaringan dibawah kulit dan memcari atau mengetahui kelainan-kelainan jaringan.
Tujuan : melemaskan jaringan sehingga sirkulasi darak dan pertukaran zat menjadi baik.
Teknik : dengan ujung jari, baik satu,dua,tiga dan empat jari yang dirapatkan, kemudian dengan tekanan, gerakan jari-jari tersebut menyusur antar otot.
Dari ke-9 macam manipulasi pokok yang dipakai dalam sistem massage swedia ini, khusus manipulasi-manipulasi vibration, skin rolling dan stroking merupakan manipulasi-manipulasi pengobatan (segment massage). Ke-9 manipulasi pokok ini dalam pelaksanaannya tidak selalu digunakan keseluruhan, tetapi hanya dipakai beberapa manipulasi saja sesuai dengan kebutuhan.


KONTRA INDIKASI :
1. Fracture (patah tulang).
2. Dislokasi .
3. Farion (ada pendarahan).
4. Luxation .
5. Tumor.
6. Demam.
7. Desentri.
8. Varices.
INDIKASI :
1. Kelelahan sehabis beraktifitas dan berolahraga.
2. Gangguan tidur.
3. Cedera atau radang kronis.
4. Rehabilitasi setelah sembuh dari sakit atau cedera.


































KESIMPULAN
Jadi massage yang paling baik adalah sesuai dengan kebutuhan pasien, dengan cara memperhatikan kondisi otot pasien sehingga dosisnya tidak berlebihan. Hal tersebut perlu ketajaman feeling (perkiraan) yang hal ini dapat dilatih dengan banyak praktek melakukan pemijatan. Khususnya bagi olahragawan yang memerlukan kesegaran jasmani sebelum bertanding, maka pada waktu-waktu tertentu massage mempunyai tujuan-tujuan tertentu.
Olahragawan yang terlalu menderita kelelahan kurang baik untuk langsung di massage, sebab otot-ototnya terdapat banyak endapan azam susu, sehingga terjadi kekakuan dan pengerasan pada otot tersebut, kalau ditekan akan terasa sakit.

Kepustakaan
Masase Terapi/Rehabilitasi Pada Cedera Olahraga, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi dan Iptek Olahraga ASDEP Pengembangan Tenaga Dan Pembina Keolahragaan.
Samsudin, Terapi Massage, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Jakarta, 2011

REHABILITASI PADA CEDERA OLAHRAGA.

Summary of the effect of immobilization on muscle
• Decrease in muscle fiber size.
• Change in muscle resting length
• Decrease in size and number of mitochondria
• Decrease in total muscle weight.
• Increase in muscle contraction time.
• Decrease in muscle tension produced
• Decrease in resting levels of glycogen and adenosine triphosphate (ATP)
• More rapid decrease in ATP level with exercise
• Increase in lactate concentration with exercise
• Decrease in protein synthesis

Summary of respon of ligament to immobilization
• Significant decrease in linear stress, maximum stress and stiffness
• Decrease in cross-se



PENDAHULUAN
Setiap individu yang melakukan kegiatan olahraga harus menyadari adanya resiko cedera. Derajat cedera dalam olahraga dapat bervariasi, mulai dari cedera ringan seperti luka lecet, hingga cedera berat seperti cedera kepala/kontusio otak.
Banyak kejadian cedera yang dialami oleh seorang atlet tidak ditangani dengan tepat, karena tidak jarang atlet menangani kasus cederanya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pelatih atau konsultasi dengan para seniornya; bahkan tidak jarang kasus cedera ditangani melalui terapi alternative. Akibatnya penyembuhan cedera tidak sempurna dan atlet mudah mengalami cedera kembali.
Cedera olahraga dapat disebabkan oleh factor INTERNAL, EKSTERNAL dan OVERUSE :
Factor internal antara lain :
a. Pemanasan tidak cukup.
b. Teknik yang salah.
c. Istirahat yang tidak memadai.
d. Kondisi yang tidak fit saat bertanding.
Factor eksternal antara lain :
a. Alat-alat yang digunakan tidak tepat/tidak sesuai ukuran.
b. Proteksi yang buruk/tidak memadai.
c. Kondisi cuaca.
d. Kondisi lapangan yang tidak memadai.
Factor overuse adalah pemakaian berlebihan yang melebihi kapasitas kemampuan si atlet.
Sebelum seorang atlet melakukan latihan atau terjun dalam suatu pertandingan, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara bertahap. Pada tahap awal akan diakukan pemeriksaan untuk mencatat data dasar atlet sekaligus menentukan taraf aman dalam memberikan dosis latihan. Data-data dasar yang diperukan meliputi :
• Tinggi Badan & Berat Badan.
• Tanda-tanda vital; tekanan darah, denyut nadi.
• Pemeriksaan fisik umum dan rehabilitasi, termasuk pemeriksaan fungsional.
• Pemeriksaan laboratorium dan rontgent thorax.
• Pengukuran kapasitas aerobic dan anaerobic.
• Flexibilitas.
• Muscle endurance.
• Muscle Strength.
• Koordinasi.
• Keseimbangan.
• Kelincahan (agiity).
• Power (daya ledak).
• Pemeriksaan diameter otot secara bilateral, diatas dan dibawah sendi yang terkait.
Pengukuran data-data awal ini diperlukan untuk proses seleksi, pemberian program latihan dan proses rehabilitasi. Cedera olahraga dapat terjadi secara sewaktu-waktu, sekalipun factor-faktor internal telah diukur secara cermat. Berdasarkan waktunya, proses cedera dibagi dua fase, yaitu fase akut dan fase kronik. Pada fase akut, umunya cedera telah langsung ditangani melalui pertolongan pertama dari dokter tim, atau bahkan oleh pelatih dilapangan.
Proses penanganan cedera akut umumnya meliputi: pengistirahatan segmen yang cedera (Rest), pemberian terapi dingin (Ice), kompresi/penekanan segmen untuk mengurangi edema dan memberikan stabilisasi (compress), serta elevasi segmen yang terkena (elevation). Proses ini disingkat dengan metode RICE.
Segera setelah penanganan cedera dilapangan, seorang atlet memerlukan penanganan rehabilitasi untuk pemulihan fungsi segmen yang terkait dan fungsi tubuh secara keseluruhan dan mempertahankan kebugaran jasmani.
Secara umum program rehabilitasi meliputi :
• Penanganan bagian yang cedera.
• Modalitas dan manipulative terapi.
• Terapi latihan untuk mempertahankan kebugaran.
Terapi modalitas merupakan ajuvan dalam proses rehabilitasi secara keseluruhan, karena itu TERAPI MODALITAS SAJA tidak cukup untuk memastikan terjadinya penyembuhan dan pemulihan fungsi, terapi modalitas tidak dirancang sebagai terapi yang bersifat kuratif, melainkan terapi simtomatik dengan tujuan antara lain mengurangi nyeri, spasme otot, menyebabkan vasodilatasi, dan mencapai relaksasi, sehingga harus dilanjutkan dengan terapi manipulative.
Dalam proses rehabilatasi PROGRAM LATIHAN merupakan komponen yang lebih penting. Manfaat program terapi latihan adalah untuk :
• Mencapai terjadinya pemulihan fungsi.
• Mempertahankan kebugaran jasmani, agar atlet saat bertanding kembali dengan kebugaran yang prima, sama dengan sebeum terjadinya cedera.
• Mencegah sindroma dekondisi. Bila penanganan hanya terpusat pada segmen yang terkait tanpa memperhatikan kebugaran secara keseluruhan, dapat terjadi sindroma dekondisi.
Komponen-komponen kebugaran jasmani yang perlu dilatih :
• Kapasitas aerobic (vo2max) target nadi harus sesuai dengan hasil stress test.
• Kelenturan otot.
• Kekuatan otot.
• Daya tahan otot.
• Koordinasi dan keseimbangan.
• Daya ledak otot.
• Kelincahan.
• Kecepatan.
• Kecepatan reaksi.
• Factor-faktor anaerobic.
Program latihan harus bersifat INDIVIDUAL sesuai dengan kondisi cedera, cabang olahraga, kontra indikasi dan dengan prinsip OVER LOAD. Dosis latihan yang diberikan dokter Rehabilitasi Medik, harus tepat dan terukur, tidak boleh terjadi UNDERTRAINING dan OVERTRAINING. Oleh karena itu, setiap program harus dicacat, JENIS LATIHAN, DOSIS, RESPON latihan harus selalu dicacat.
Bila program latihan bersifat undertraining, maka program ini tidak akan bermanfaat dan hanya membuang waktu saja, karena tidak akan terjadi peningkatan atau pencapaian pemulihan fungsi. Di lain pihak bila program latihan bersifat overtraining, maka akan berisiko menambah cedera lebih lanjut.

Tanda-tanda undertraing :
• Dengan pembebanan yang sama, tidak terjadi penurunan nadi.
• Fase pemulihan (recovery) memanjang.
Kondisi overtraining merupakan kondisi yang harus dicermati saat pemberian program latihan, secara umum tanda-tanda dan gejala overtraining, meliputi :
• Keluhan subjektif seperti ; pusing, lemas, mudah lelah, mual-mual.
• Adanya gangguan tidur.
• Nafsu makan menurun.
• Gelisah.
• Nadi dan tekanan darah istirahat meningkat.
Bila terjadi masalah overtraining, maka dosis latihan harus segera dikurangi, serta dilakukan monitor tanda-tanda overtraining setiap hari. Pada kondisi ini umumnya bentuk latihan berupa latihan peregangan dan dosis latihan diturunkan.
Seorang atlet yang bisa bertanding kembali menunjukan program latihan rehabilitasi yang telah selesai. Criteria seorang atlet untuk bisa bertnding kembali setelah rehabilitasi adalah ;
• Subjektif tidak ada keluhan.
• Pemeriksaan fisik tidak ada kelainan.
• Bisa melakukan gerakan-gerakan yang sesuai dengan cabang olahraganya dengan pembebanan. Contoh untuk cedera ekstrimitas bawah, tes umum yang diberikan meliputi :
o Loncat di tempat dengan 2 kaki.
o Loncat 2 kaki sambil berputar, searah jarum jam dan berlawanan jarum jam.
o Loncat dengan 1 kaki yang sehat.
o Loncat dengan 1 kaki yang sehat sambil berputar; searah dan berlawanan jarum jam.
o Loncat dengan 1 kaki yang sakit/cedera.
o Loncat dengan 1 kaki yang sakit/cedera sambil berputar; searah dan berlawanan jarum jam.
o Lari membentuk angka 8, dari lingkaran kecil hingga besar, kemudian balik arah.
• Bila dibandingkan dengan data awal atlet hasilnya sama, berarti program rehabilitasi berhasil.
Hal juga yang penting dalam penanganan cedera adalah pencegahan cedera berulang. Untuk itu perlu dianalisa factor-faktor mana yang menjadi penyebab cedera, baik internal maupun eksternal, kemudian factor-faktor ini fiintervensi. Pencegahan cedera dapat pula dengan proteksi segmen yang cedera, misanya dengan metode taping dan bandaging.
Kesimpulan ;
Pemulihan fungsi setelah terjadinya cedera merupakan factor yang amat penting, karena dapat menentukan masa depan seorang atlet. Pemulihan fungsi yang optimal memerlukan penanganan yang tepat, agar tidak terjadi cedera sekunder atau cedera kronik yang malah mempersulit penyembuhan jaringan dan pencapaian pemulihan fungsional.
Kepustakaan
1. Roy Steven MD, Sport Medicine Prevention, evelation Management and Rehabilitation, Prentice Hall Inc, 1983.
2. Wilmore JH, Costili DL, Physiology of Sport & Exercise, Champaign, IL; Human Kinetic 1994